Pada posting kali ini saya akan memaparkan salah satu case study yang saya dapatkan bulan lalu dari sebuah syarikat (organisasi usaha) di Malaysia yang memiliki permasalahan dengan strategi pengelolaan informasi mereka dengan menggunakan media website. Kasusnya simple tetapi efek dan strategi yang dipaparkan disini mungkin bisa diambil pelajarannya.

Latar Belakang

Perusahaan X ini adalah perusahaan yang bergerak di bidang sales product peralatan telekomunikasi. Mereka melayani seluruh semanjung Malaysia untuk menyediakan dan melakukan service terhadap peralatan-peralatan elektronis. Di usaha mereka, mengakomodasi proses pembelian spare parts, kemudian mereka rakit, dan mereka jual. Saat ini mereka melakukan strategi bisnis dengan direct selling. belum genap 2 tahu mereka memiliki website yang mereka orientasikan sebagai alat informasi keberadaan mereka. Setelah dilakukan evaluasi, investasi penyediaan website tersebut ternyata tidak memenuhi kebutuhan yang mereka harapkan, karena pada kenyataan website itu hanya jadi semacam “poster, pamflet” online saja. Tidak ada feedback significant dari business process yang mereka lakukan.

Permasalahan

Saat ini mereka menghendaki website ini bisa di jadikan satu strategui yang terintegrasi dengan sistem penjualan, perbekalan, store, dan bahkan sales mereka. Mereka sebenarnya juga sudah paham adanya web-web yang melakukan kegiatan e-commerce yang sebenarnya mereka bisa tiru dan custmize sesuai kebutuhan. Tapi tetap mereka merasa kurang yakin dan belum sesuai dengan bisnis speisifik/atau paling tidak memberikans esuatu yang unik dan keunggulan bagi mereka.

Isu

ketika pertama kali saya dikontak dan diceritakan permasalahan yang mereka kemukakan, saya menduga memang hanya sebatas bagaimana mengubah website mereka.  Hmm tetapi saya masih penasaran apakah hanya sebatas itu, ternyata benar dugaan saya problemnya seperti gunung es, website yangtidak ter-update, isi yang monoton, tidak adanya aktif content hanyalah segelintir permasalahan di permukaan saja.

Setelah 1 hari melakukan intensive Focus group discussion dengan para manajer, CEO dan beberapa leading person, saya akhirnya mendapat gambaran apa yang sebenarnya terjadi. beberapa highlight yang saya temui adalah :

* para manajer ini sadar akan penting website terintegrasi dengan bisnis mereka, tidak sekedar papan publikasi online, tetapi juga harus menunjukkan “sesuatu”

* mereka merasa website ini sangat sangat monoton, tidak ada yang membuat website dikunjungi

* disisi hitung-hitungan trafic rate, financial impact/contribution tidak menunjukkan sesuatu yang signiificant

meskipun hanya 3 hal ni yang kelihatan FGD saya lanjutkan ke level personel/staff, nah ternyata terkuat problem basicnya. 3 hal dari view manajer tersebut basic/root problemnya baru ketahuan di step ini. Para personal dibagian store, sales, purchase menyampaikan bahwa problemnya ada di data/informasi. mereka tidak pernah tahu, dan cenderung improvisasi ketika diminta menyediakan data persediaan, penjualan atau lainnya untuk ditayangkan di website. problem klasiknya lagi, mereka tak punya waktu untuk itu karene kesibukkan yang teramat sangat.

Pada step ini saya baru menyadari, ternyata problem-problem ini sangat similiar dengan probelm yang bisa kita temui di semua bidang industri, yaitu inkonsistensi dan tidak tahu data/informasi apa yang harusnya kita tampilkan.

Solusi

setelah menganalisa dan mempertimbangkan beberapa opsi solusi yang mungkin, maka saya akhirnya memberikan solusi praktis kepada perusahaan itu sebagai berikut:

>> manajemen : saya menyarankan ke pasa pihak manajemen atas untuk kembali memikirkan strategi bisnis mereka. bagaimanapun bisnis mereka potensi terbesar adalah direct selling, sementara penjualan melalui web misalnya ditempatkan sebatas pada publikasi pengenalan produk baru, program promosi, update, membership customer dengan adanya penawaran diskon, etc, mengecek ketersedian produk.

>> pada level direct store, saya menyarankan dibuat sebuah on-site online catalog, yang memungkinkan customer melihat, mengecek dan windows shopping barang yang dikehendaki di store-store yang tersedia. strategi ini akan memberikan kontribusi efektifitas dengan semakin mudahnya customer melihat-lihat, membandingkan dan etc barang yang hendak dibeli. Jadi klo dimisalkan nanti tidak perlu lagi harus panggil SPG untuk pilih, dan ambilkan barang yang kita kehendaki seperti di toko sepatu misalnya

>> pada website, ditekankan bukan informasi profil perusahaannya, tetapi data and information based product and sales strategy. sehingga website ini akan sangat membantu untuk ajang marketing. dan isian website ini kita serahkan ke bagian marketing untuk diupdate setiap saat sesuai dengan event2 terbaru perusahaan.

setelah beberapa minggu implementasi, alhamdulillah saat ini mereka sudah merasakan manfaat dan efisiensi dan website yang semakin fokus dan dinamis. Dari sisi teknis tidak ada teknologi canggih yang ditanam, cukup menggunakan teknologi yang sudah ada tersedia bebas (open source) semacam CMS untuk website, dan e-commerce sudah memenuhi kebutuhan yang ada. Alhamdulillah, baru minggu kemarin (17 jan 2010) saya diundang untuk makan siang di Ipoh, Malaysia, ceritanya traktiran kesuksesan project make[IS]work ini.

semoga cerita singkat ini bisa membantu siapapun yang menghadapi permasalahan serupa, apabila ingin konsultasi lebih detail silahkan kontak. terima kasih


Comments



9 Comments so far

  1.    Purwoko on January 19, 2010 1:26 am

    dlam kajian ilmiah, ini masuk pada teori apa mas?

  2.    mardhani on January 19, 2010 8:33 pm

    pemahaman saya ini kombinasi antara IT governance, IT best practise and website management. sebenarnya inside processnya sendiri panjang juga, karena nanti ada social representation juga , semacam bagaimana mengubah persepsi, dialog kontruktif untuk memperkaya content, dan tentunya human social teori, karena dengan pendekatan ini, manusianya kita lebih manusiawikan….

  3.    Purwoko on January 20, 2010 1:38 am

    Nah, ini mas. Saya juga punya ketertarikan yg sama. Tapi tentang perangkat informatika dan pustakawan. Saya menemukan teori tt socio informatika dan socio-teknologi.

    CUma saya masih belum paham, bagamana relasi antara dua kajian ini. Karena informatika sebenarnya bagian dari teknologi.

    Mohon pendapatnya?

  4.    mardhani on January 20, 2010 2:30 am

    hmm saya jadi ingat waktu “ngajar” di pogram CIO MTI pernah memaparkan tentang social informatics. kalau in sebenarnya diversifikasi cabang kelimuan yang mempertemukan tata kelola TI, TI sendiri dan social activities. kalau dari kacamata IT Governance sebenarnya sudah diatur bagaimana IT ini allignment dgn business process, aturan, behavior, konvensi etc.

    khusus untuk pustakawan, saya punya pendapat pustakawan menjadi leading person in long term data accessibilities and usablities. so mau tidak mau harus paham satu item penting yang dinamakan Data Governance plus pemahanan social juga untuk memahamkan orang pentingnya resource data tersimpan dgn baik dan ter access u keperluan masa depan.

    Nah kalau sudah menyentuh itu, technology as enabler and tools, karena direction pemanfaatan atau supportingnya akan berada di pustakawan tadi (Chief Information).

    beberapa link yang terkait dgn social informatics :
    -> http://www.links.org.ar/infoteca/communityinform.pdf
    -> http://rkcsi.indiana.edu/

    wah kalau ada forum diskusi dgn pustakawan senang sekali ya …kapan diadakan mas diskusi yg membahas the future and challenge become librarian and archivist…saya siap bantu materi

  5.    Purwoko on January 21, 2010 12:46 am

    Usul yang menarik mas, saya rasa bisa. Cuma apa audiens akan khusus pustakawan atau umum, dan topik itu menjadi salah satu bahasan saja.

    Saya ingin meneliti tt teknologi ini pada para pustakawan, rencana untuk thesis.

    Sebagaimana pak Mardani katakan tt semestinya pra pustakawan paham tt Data Governance dll.

    Kebanyakan TI dikembangkan dengan tidak mengkaji tt aspek sosial/psikologis bahkan politis dari orang/kelompok dimana teknologi itu akan di jalankan.

    Seperti halnya para pemulung yang diminta pindah ke rumah susun.Ternyata tidak semuanya mau, karena jika mereka dapet di lantai atas gedung maka akses dia ke “lapangan” akan susah.

    Kalau istilahnya “diskusi nalor-ngidulnya”, pada dunia perpustakaan TI itu juga berperan, tapi kenapa penerapn untuk teknologi otomasi dan digital library saja masih sulit. Padahal banyak tersedia perngkat lunak. Di tempat kita sendiri akhirnya ada banyak beragam perangkat lunak, tapi ada perpustakaan yang mengembangkan sendiri atau justru membeli dari luar.

    Dari kasus ini, TI di perpustakaan/pustakawan saya rasa multi dimensi. Psikologis, sosial, politis, dan lain sebagainya…

    Lanjut…

  6.    mardhani on January 21, 2010 12:56 am

    setuju mas, iya ide saja mas. kebetulan saya februari ada di Indonesia, siapa tahu temen-temen pustakawan ada forum diskusi jadi bisa saling memberi feedback, karena sayapun masih haus dengan informasi-informasi langsung dari pelaku.

    Wah menarik untuk tema thesis (lupa-lupa ingat , jadinya ambil dimana ya?).

    Kata kuncinya satu mas : kemudahan apa yang bisa disajikan oleh penerapan SI itu sendiri. bukan softwarenya saja tapi yg diperhatikan juga apakah prosedur/proses/birokrasi jadi makin efektif efisien, apakah dengan SI tujuan kerja kita semakin mudah tercapai, apakah orangnya memang butuh dan siap dalam artian tidak hanya menerima tetapi menjadikan SI bagian hidup kerjanya, kemudian baru masalah teknis kesesuaian hardware, software peralatan pendukung, dan tak kalah penting feedback users. di UGM problemnya implementasi SI, area2 ini tidak diperhatikan, bahkan user hanya jadi obyek saja…

    hehehe…semoga makin fokus dan clear thesisnya

  7.    Lily30mC on January 25, 2010 12:31 am

    I do guess that you are the most experienced data’ connected with this post or just about essay writing help performer. Furthermore, you should be hired by the custom essays service to compose such kind of nice written essays.

  8.    faizal alfa z on February 20, 2010 5:20 am

    Mantaaaap, sharing yang inspiratif dan mencerahkan, salam kenal dan terimakasih atas artikelnya…

  9.    venty on February 27, 2010 1:58 am

    artikel yang inspiratif dan sangat bermanfaat bagi saya… terima kasih lho mas… ditunggu tulisan-tulisan selanjutnya..

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind

*
Mohon masukkan kata kunci untuk membuktikan bahwa anda bukan spam-script, ketikkan kata kunci pada gambar dibawah. klik pada gambar untuk mendengarkan audio
Click to hear an audio file of the anti-spam word