Respect (?)

Tulisan ini saya buat sebagai berbagi pengalaman ketika mendekati berakhirnya kegiatan riset di Austria ini. Berbagi pengalaman ini bukan tentang tempat yang bagus dikunjungi atau makanannya atau tentang budaya di negara ini. Berbagi pengalaman tentang nilai dari sebuah “respect” di dunia akademis, profesional, dan komunitas.
Minggu-minggu terakhir agak di luar kebiasaan di kegiatan ini. Yang biasanya kalau mendekati deadline pasti akan di minta push menyelesaikan kewajiban, laporan dan lainnya. Tapi saya mendapatkan “hadiah” (menurut saya) karena dihubungkan, diberi kesempatan, dan mendapat inlightment dan booster sebagai “researcher”. waktu 3 bulan untuk mengerjakan sesuatu yang ambisius memang tidak pernah cukup kata Profesor saya disini, bahkan untuk sekedar memetakan literatur dan membuat sebuah alur saja belum tentu bisa berhasil. Bagi Profesor tersebut, 3 bulan target ke saya adalah mengali knowledge sebanyak mungkin dan melihat hasilnya dari etos, determinasi, dan antusias.
sedikit cerita, saya berada 1 ruangan dengan 2 kolega saya, yang satu PhD student tahun pertama dari vietnam, dan yang satu junior lecture (tapi sudah PhD) yang sibuk luar biasa. Yang menarik, kenapa saya ditempatkan di ruang tersebut, Profesor tersebut memancing pertanyaan ke saya mengenai hal tersebut. Dijelaskan bahwa hal itu di sengaja sebagai respect sesama peneliti, di jenjang level manapun respect ini dibawa, dan diimplementasikan dalam sebuah ruang kerja yang dirasa akan meningkatkan kualitas yang duduk disana. Seakan saya tertegun, selama ini kita selalu membedakan sangat jauh “duduknya” mahasiswa dengan “duduknya” dosen, dosen junior dengan dosen setengah atau senior sekalipun. Tapi saya bersyukur di Lab SKJ saya di MU, at least, saya dan mahasiswa saya duduk semeja, dan santai saja…
Tapi sebenarnya bukan masalah semeja, tetapi setara dalam hal pemikiran, setara dalam hal kesetaraan fungsi dan peran. Pernah satu ketika saya tiba-tiba diajak dalam satu forum prestige di Univie, yang berkumpul dosen-dosen Profesor yang beberapa sudah on track ke nobel, mereka dengan antusias dan mempersilahkan kita-kita yang muda menyampaikan ide meskipun sebenarnya cuma jadi listerner. Tidak ada sambutan kata “kok, nglantur, tidak nyambung, etc…”. sekali lagi saya tertunduk, Indonesia yang terkenal santunnya, menurut saya kalah dengan respect ala ini…
Yang kedua, saya mendapatkan kesempatan untuk mewakili Univie (ini agak membingungkan, karena saya bukan tercatat mahasiswa Univie aktif sebenarnya) untuk ikut dalam simposium internasional yang diadakan oleh UN. Saya masih punya rasa ke UGM-an dengan menuliskan artikel ttg hal ini di link ini(http://www.ugm.ac.id/id/berita/1110…). Tapi disana kita tidak ditempatkan di baris meja yang sangat strategis sejajar dengan negara-negara lain. dan sekali lagi, respect feel yang saya dapat membuka luas pemikiran bahwa kita hidup lebih berlomba-lomba berkontribusi dengan sekecil yang kita bisa, dan itulah yang menjadikan respect ada. Ini juga jarang terjadi di lingkungan kita di dalam negeri, kesempatan strategis ini dijadikan ajang bagi orang-orang yang lebih punya privileges u bisa dikirim ke event-event ini tapi ujungnya melarikan diri sebelum event selesai (dan malunya saya ketika delegasi formal Indonesia malah tidak ada di acara-acara yang penting).
Yang ketiga, entah darimana “komunitas” di Vienna ini mendapatkan informasi, saya mendapat invitation untuk mengikuti forum innovation. Eventnya tidak seramai seminar IT di Indonesia, tapi fokus, tajam dan yang memberikan materi adalah orang yang benar-benar berpengaruh di area tersebut. Dan benar saja, respect terhadap inovasi, start up yang masih “tukul”, tunas luar biasa, mereka menanyakan apa yang bisa dibantu, memberi advice, dan seterusnya. yah, tolong menolong, tertunduk lagi saya, karena kita sekarang lebih egois satu sama lain. satu negara, provinsi, kabupaten, kota, kecamatan, universitas, fakultas, departemen, prodi lebih mementingkan urusan bagi-bagi kekuasaan (ujung-ujungnya begitulah…) dan terkadang membedakan karena berbeda latar belakang. Dan saya merasa (mungkin saya salah) luntur sudah respect satu sama lain dalam berinteraksi…Kita satu komunitas, mestinya tolong menolong saja untuk membantu yang diberi amanah untuk dapat berkinerja tinggi…berkontribusi tidak harus menguasai kan…
Dan hari ini satu review bersama dilakukan atas pekerjaan hampir 3 bulan ini. sekali lagi respect, meski belum maksimal dan menghasilkan sesuatu yang luar biasa, saya mendapat suntikan semangat, bahwa sesuatu harus dikembangkan terus. memang belum berhasil saat ini, memang belum maksimal, memang masih jauh dari sempurna, akan tetapi yang jauh lebih penting mau menjalani prosesnya dan presisi. Suntikan untuk selalu semangat membedah titik kecil invention yang dikejar, memberikan kritik dengan cara santun, dan menjadi teman diskusi yang membangun…
Satu lagi yang menjadi catatan tersendiri, memang perlu kita harus menjadi orang yang idealis, pioneer, dan pembeda. kalau lingkungan kita sudah sedemikian rupa permisif dengan hal-hal tanpa respect, mulai saja dari kita sendiri, kita tularkan pada mahasiswa dan sekitar kita. Biarkan jadi bola salju yang harapannya bisa membesar terus ketika di putar turun ke lembah, penuhi dengan hiasan prestasi dan karya nyata, dan kalaupun tidak teranggap di lingkungan sendiri, biarkan dunia menikmati peran kita…dan kita sebagai orang Indonesia sudah punya modal besar yaitu santun, tolong menolong, dan penuh kearifan…
semoga bermanfaat…

 

Topik Penelitian 2016 – Cloud.wg.ugm.ac.id

Dear rekan sekalian,

Grup Riset Cloud & Grid Technology, pada tahun 2016 memiliki agenda penelitian yang lebih konkret untuk melanjutkan agenda/roadmap penelitian yang sudah ada (cek di roadmap ini). Untuk mengetahui beberapa topik yang sudah selesai dikerjakan oleh rekan-rekan lain bisa membaca di bagian publikasi riset. Beberapa hasil penelitian itu telah berhasil dipublikasikan di beberapa konferensi nasional, internasional bahkan di jurnal internasional. Riset di grup ini tidak pragmatis harus menghasilkan aplikasi atau sesuatu yang dipahami sebagai produk, lebih dari itu kontribusi ilmiah dalam bentuk publikasi ilmiah lebih diutamakan.

Penelitian di grup riset ini juga mengutamakan kolaborasi dan diskusi ilmiah yang diusahakan berkala. satu topik bisa didukung oleh sub-sub topik lain yang saling menjalin kontribusi. Adapun beberapa agenda lebih rinci untuk semeter baru di tahun 2016 ini adalah sebagai berikut:

  1. Infrastruktur, akan memfokuskan pada Cloud Data Center, pada topik ini beberapa isu yang bisa dijadikan penelitian adalah:
    • manajemen sumber daya data center melalui strategi prioritisasi bagi big data
    • manajemen virtual machine bagi cloud data center
    • pengembangan cloud service untuk disaster recovery center
    • high speed data center
    • reliable and fast database migration on multisite data center
    • topik lain yang relevan
  2. Arsitektur, akan memfokuskan pada pengembangan konfigurasi perangkat keras, sistem operasi dan layanan u small medium Data Center on the box. Idenya adalah membangun mini data center berbasis raspbery pie (4 , 8, 16 , 32, 64 nodes) dalam satu arsitektur.
    • cluster manajemen pada raspbery pie
    • data center operation system development
    • data center service untuk small medium enterprise
    • pengembangan mini PC for kids berbasis raspbery pie
  3. Cloud service, fokusnya lebih kepada pengembangan beberapa penelitian yang sudah ada sebagai berikut:
    • pengembangan smart data management untuk elastic dictionary and indexing.
    • pengembangan inteligent data management dengan fungsi prediksi dan similiarity
    • pengembangan reconfigurable dan self managing  data management
    • pengembangan big data management system untuk data stream (Tweeter, IoT, etc)
    • pengembangan aplikasi untuk IoT (smart home, smart environment, dan smart personal assistant)
  4. Data Science, fokus baru untuk mengarap beberapa isu dalam hal data science, sebagai berikut
    • Pengembangan qur’an data science (project awal seperti di http://makeiswork.com/qurandatascienceproject/)
    • Pengembangan data science dan visualisasi (misalnya u keperluan finacial seperti di http://makeiswork.com/2015/12/23/show-case ,atau newsmap.jp, atua dengan isu baru yang lain)
    • Sata Science for smart city –> fokusknya menyajikan data-data dari data stream tweeter, weather, etc uyang dapat digunakan untuk keperluan manajemen kota.

Topik-topik diatas menjadi awal untuk mendiskusikan lebih riel lagi tpoik yang bisa dikerjakan, sangat bisa jadi menjadi lebih fokus dan lebih detail. Grup riset ini memfokuskan agar rekan-rekan yang mengambil TA baik pada semester berjalan atau mempersiapkannya jauh sebelum nya. Rekan-rekan akan dimita untuk menyediakan waktunya bekerja di Lab agar muncul diskusi, kolaborasi dan kehidpan riset yang akan sangat bermanfaat bagi masa depan rekan sekalian, baik nanti ditempat kerja maupun studi lanjut.Komitmen dan kerelaan untuk fokus menjadi kunci lancar dan tidaknya agenda rekan semua…. Bagi yang tertarik untuk bergabung silahkan untuk mempelajari dan menghubungi saya di email mardhani@ugm.ac.id. Catatan khusus, dikarenakan saya masih berada di luar Indonesia, untuk diskusi akan kita laksanakan dengan memaksimalkan media elektronis.

salam semangat dari Vienna.

 

Love it so much …

Antara Beasiswa, Idealisme dan Viena

Ingin sekedar share dan mencoba membagi beberapa poin pemikiran mengenai beasiswa, idealisme dan Viena. Memang sengaja judulnya ada yang nyambung ada pula yang dipaksakan nyambung. Bahasanya santai saja, dan mencoba menceritakan secara mundur.

Saat ini saya memasuki tahun ke 3 jenjang S3 saya di Ilmu Komputer UGM. Hopefully bisa target saya bisa diselesaikan dalam kurun tahun 2016, semakin cepat akan sangat baik. Dan kebetulan pula saya mendapat kesempatan riset 3 bulan di Austria, University of Vienna dari dukungan ASEA UNINET. Saya tidak akan cerita proses S3 nya, tapi behind S3 ini. Ya, saya kuliah S3 ini dengan biaya sendiri meskipun sebenarnya saya lolos beasiswa doktor dari salah satu pengelola dana pendidikan di Indonesia yang saat ini sangat banyak diminati. Lolos dalam hampir semua proses seleksinya bahkan ikut program leadershipnya 10 hari di campkan disuatu tempat di Jawa Barat. Tapi in the end, saya tidak dapat melanjutkan proses pada fase final dan memutuskan untuk tidak melanjutkan juga karena beberapa hal. Poin pertama, pada sesi wawancara saya dianggap tidak eligble untuk S3 di dalam negeri tapi harus di luar negeri, situasinya saat itu sayangnya saya sudah ongoing ambil s3 di UGM (kira-kira 1 semester). dan ini tampaknya waktu itu tidak bisa ditawar sehingga pada hari penandatangan saya tidak dapat melakukannya.

Finaly, saya ikhlaskan dan niatkan untuk membiayai dengan sumber daya sendiri. Nah, yang ingin saya share poin ke dua ini sebenarnya, Why begitu… kalau poin pertama saya cuma bisa bilang …ya sudahlah (dengan gaya Fico dr SUCI3).

Beasiswa menurut saya itu amanah, sekaligus privileges. Kenapa privilegas karena ini biasanya diberikan untuk orang-orang terpilih sesuai kriteria provider beasiswanya, biasanya ada visis misi dan mulai yang ingin diinvestasikan pada penerimanya. Sekaligus amanah karena klo beasiswa dari pemerintah diambilkan dari APBN atau hasil usahanya dan seterusnya. Dua sisi ini baik amanah dan privilegas saya pikir punya tanggungjawab yang sangat sangat besar, baik didunia ini maupun di akhirat. Waktu pembekalan saya di doktrin bahwa beasiswa ini adalah hutang kita kepada negara dan masyarakat, nah ini yang menakutkan bagi saya, pasti saya tidak akan bisa membayar hutang tsb meski mencicilnya sampai kapanpun…bukan karena besarnya tapi responsibilitiesnya (atau mungkin saya yang to much pikirannya…).

Saya juga sebenarnya pernah dapat beberapa kali beasiswa, ketika S2 saya diberi beasiswa dari Program S2 MTI UGM dgn skema studenship, yang waktu itu cuma 2 porsi sekali penerimaan dan harus bersaing dengan banyak sekali kandidat. saya sendiri, sebenarnya sampai sekarang juga masih takjub kok bisa dapat karena background dan kemampuan ketika mendaftar dulu sangat minim. Waktu itu saya memaknainya beasiswa yang saya terima, ada konsekuensi u melakukan riset yang berguna bagi instansi saya yaitu UGM, dan menyumbagkan tenaga saya waktu (krn waktu itu sambil kerja di UGM), untuk membuat IT UGM more better dan etc…Dan memang saya berusaha keras, dan mewujudkannya dengan nilai akademik yang tidak buruk, plus pengetahuan tersebut saya curahkan bener-bener di kerjaan di PPTIK UGM, salah satunya mencetak roadmpa IT governance UGM  yang waktu itu sudah mengusulkan terbentuknya direktorat IT, dan baru 2 tahun ini kalau tidak salah terwujud. Meski saya yakin perubahan tersebut tidak ada hubungan mungkin, tapi somehow kajian ilmiah sebenarnya sangat berguna u drive organisasi menjadi lebih baik.

Beasiswa kedua yang saya terima dari LN, tepatnya negara sebelah, untuk S3 waktu pertama kali dulu. Kalau kali ini kontraknya jelas jadi graduate assistanship plus riset untuk publikasi dan seterusnya. Meski tidak menghasilkan yang diharapkan, saya finally mundur karena selain satu dan lain hal, merasa bahwa amanah beasiswa ini tidak bisa saya penuhi.

Nah yang terakhir, saya mendapatkan bukan beasiswa menurut saya, ya supporting dari ASEA UNINET untuk melakukan riset di austria ini. Ini kontraknya lebih clear saya diminta untuk menjadi PhD research short team untuk membantu riset disini dibidang Cloud & Grid, plus u support riset saya sendiri. Meski full coverage tapi beberapa poin kita sendiri juga harus investasi.

Saya sendiri masih berada di posisi untuk menganjurkan temen-temen mencari beasiswa dan pergi keluar negeri untuk belajar, dan bekerja secara baik. Terlepas apapun cita-cita anda nantinya….

Poin yang terpenting, beasiswa maknailah dengan idealisme, istilahnya anda di investasi oleh orang/negara untuk nantinya bisa mandiri dan memberikan kontribusi nyata bagi negara kita. Saya memang memilih untuk mencoba semandiri mungkin dengan sumber daya sendiri karena saya merasa sudah bekerja, meskipun tidak banyak, ada income, dari income tsb saya bisa menyisihkan sedikit demi sedikit untuk membayar SPP semesteran yang cukup mahal. Tapi its oke, saya juga berfikir yang sama ini investasi pada diri saya sendiri. Bukan hanya investasi saya, tapi juga keluarga yang sedikit mengencangkan ikat pinggang agar investasi lebih leluasa. Tapi yang saya rasakan sedikit berbeda, dengan cara ini saya jadi lebih lebih dan lebih berusaha keras agar selesai, agar baik prosesnya dan berkorban lebih keras lagi.

Inilah yang saya sebut sebagai beasiswa itu idealisme. Kalau saya bisa mandiri, saya akan lebih bahagia apabila ada rekan saya yang lain bisa mendapatkan ruang mendapatkan beasiswa (agak lebay mungkin, tapi its true…).  Manfaatkan ruang tersebut dengan penuh tanggungjawab, dan kerjakan sebaik-baiknya.

Jadi jangan sekedar jadi scholarship hunter tapi jadilah pejuang idealis. Jangan termakan beasiswa, kuliah LN, seneng-seneng etc…Tapi maknailah itu jihad kita, proses dan bakti kita kepada minimal keluarga terdekat, masyarakt dan negara. jangan terlalu berlama-lama, selain hemat APBN, juga untuk segera berkontribusi dengan apa yang kita bisa. Jangan juga menunggu lama u berkontribusi, klo ada waktu longgar gunakan minimal buah pikirnya untuk negara kita yang perlu energi positif agar semakin baik. Ya Start dgn big dream, dan mulailah dengan langkah-langkah kecil untuk merealisasikannya…proses nanti yang akan membentuk kita. Satu lagi, kita semua tidak sendiri, titik-titik kita sebagai pemuda Indonesia yang sedang berjuang, adalah teman seperjuangan…Semangat

Play Maker

“Play maker” … di Santiago Bernebau dan City Stadium tadi malam menyajikan sebuah “drama latihan sepakbola, dimana dua-duanya tim tamu melatih tim kandang – merujuk hasil pertandingannya”. Tapi yang menyita perhatian adalah Rakitic & Iniesta (Barca) , dan Firminha di Liverpool. pemain tersebut benar-benar merancang, mendesain, mendeliver, men-service dan kadang juga mengeksekusi serangan dengan rapi dan well-plan. Biasanya playmaker ini visinya luas dan mengontrol benar dari sisi serangan hingga garis gawang, posisinya sangat mobile kadang harus mengisi posisi-posisi yang ditinggalkan rekan lain yg asyik menyerang atau bertahan. skill nya mumpuni, dribble, sliding, shoot harus sama-sama terukur, kaki kanan dan kiri sama kuat, meski badan kecil atau sedang kemmpuan control dengan dada, dan kepala juga managable. Tapi kalau paymaker lagi tidak on fire bisa jadi dia akan meninggalkan lubang besar di jantung tim.

well, agama, pelajaran dan kehidupan kita dimanapun, mendrive kita juga untuk minimal menjadi playmaker. Menjadi orang bermanfaat sekecil apapun, dan sesuai kemampuan shingga kita bisa mendeliver dan men-service orang-orang disekitar kita dengan lancar. dari tersenyum, berfikir positif hingga ringan tangan dengan tenaga dan pikiran kita akan menjadikan kita playmaker di kehidupan kita sendiri-sendiri. Kadang juga harus menahan diri untuk tidak memaksakan diri jadi superstar striker misalnya, atau penjaga gawang terhebat, menjadikan rekan lain menjadi orang-orang hebat diposisinya juga akan menjadi bagian tugas playmaker. enjoy the game, bisa jadi akan menjadi change maker.

Bagi yang lagi tugas belajar, melanjutkan studi saatnya belajar tekun dan berusaha menjadi playmaker di areanya, pulang agar bisa menjadi change maker yang impactfull di Indonesia. Yang lagi bekerja atau sedang mencari jodoh pekerjaan, sedang berlaku menjadi playmaker dengan baik. bekerja dengan baik akan menjadi training camp ideal u menjadi playmaker hebat ditempat kerja anda, yang lagi hunting pekerjaan, menjadi playmaker pekerjaan yang sesuai dgn posisi dan kapasitas anda, search dan find proses literate yang harus sabar dan intens, yakin deh pasti akan menemukan club yang pas untuk menjadikan anda playmaker sejatinya (mungkin begitu juga dengan jodoh…). dan lainnya.

Play maker … [noted dipinggir donau dan suhu mendekati 4]

Finally Vienna

Finally, setelah liak liuk dengan perencanaan, timing, penyelesaian beberapa tugas negara dari kampus, mengatur tenaga u start up dan etc…melangkah juga untuk fokus dan open new opportunities di negara lain. Bagi saya, melepas dan melangkah untuk hal ini luar biasa butuh energi besar.  Meninggalkan tim yang kompak dirumah (krucil-krucil dan ibunya) sudah pengorbanan hati dan fisik, melepas rumah kedua lab SKJ yang mungkin tahun depan sudah harus pindah, dan sedikit memaksa temen-temen yang masih TA harus survive secara remote, create start up yang masih fase-fase merangkak, bisnis yang mulai ekpansif, dan lainnya. Mungkin sama seperti kita mau masuk ke ruangan yang gelap, poinnya ya melangkah saja, meski berat, pikiran macam-macam ya sudahlah melangkah. Jadi kredt pertama adalah keberanian untuk “take action”.

Berbekal informasi dari internet, berkenalan dgn temen melalui sosial media yang belum pernah ketemu bahkan ada koneksi, hanya berbekal sesama orang Indonesia, ternyata banyaScreen Shot 2015-11-17 at 6.45.12 PMk rekan-rekan kita diluar sana yang baik hati dan tolong menolong. saya sangat berterima kasih buat mas Peb, mas Fajar yang lagi riset di TuV, kmd dikenalkan dengan mas Bram, yang rela menjemput dan mengajari saya mempelajari jalur transportasi di Vienna. Tidak terbayang tanpa advice nya saya bisa muter muyeng berapa lama. terima kasih mas Bram!

Awal di Vienna, disambut udara yang dingin, saya sudah membayangkan akan sekian derajat dan seterusnya, tapi Alhamdulillah menurut saya kita beruntung sebagai orang Indonesia, kata rekan saya dari Vietnam, orang asia tenggara lebih tangguh dalam beradaptasi, tapi ya belum tentu  juga sih, soalnya belum sampai minus. Tapi anyway, suhu cukup nyaman u aktivitas, gerimisnya juga lumayan bersahabat.

2 hari setelah kedatangan saya dedikasikan untuk nekat. ya Nekat kesasar, nekat jalan kaki sampai pegel-pegel, dan nekat untuk memaksimalkan kapasitas otak mengingat jalan, ancer-ancer dan semacam ilmu perbintangan untuk tahu arah utara selatan barat dan timur. Agenda kesasar ini bukan menjadi derita tapi menyenangkan karena kesasar ketempat-tempat yang menurut saya bagus sekali jarang saya temui di Indonesia. saya ndak ngerti arti tulisannya, tapi prediksi saya ini tempat-tempat bersejarah dna landmarknya….besok klo sudah lebih tahu mau saya rinci diskripsinya.

Screen Shot 2015-11-17 at 6.48.40 PM Screen Shot 2015-11-17 at 6.48.33 PM Screen Shot 2015-11-17 at 6.48.26 PM Screen Shot 2015-11-17 at 6.48.15 PM Screen Shot 2015-11-17 at 6.48.00 PM Screen Shot 2015-11-17 at 6.47.53 PM

Mencari 2 Universitas ternyata tidak semudah di Indonesia, yang namanya Universitu of Vienna dan technology university of vienna sama-sama menempati gedung-gedung kotanya, bukan spt UGM yang ada lokasi, masuk satu satu gedungnya, dan jadi tahu ternyata gedung-gedung tua ini penuh dengan IoT, dari pintu, lift, komunikasi otomatis, dan lainnya. Preservasi fisik kota yang bagus dan tidak mengorbankan historical viewnya. Nah, otak mulai punya ide, kenapa konsep ini ndak dipakai sebagai platform smart city di Jogja misalnya. or at least di UGM.

Hunting 2 Univsersitas ini saya selingi lapor ke magistrat semacam tempat lapor warga asing, meski antri, tapi krn visa dgn tujuan penelitia or belajar, layanan fast respon ndak sampai 5 menit langsung jadi, saya search dan explore ternyata di belakangnya e-government servicenya cukup tangguh. data saya masuk, langsung bisa akses bank, etc.

 

#64nodessupercomputerproject – the case!

#64nodessupercomputerproject – lighting!

#64nodessupercomputerproject – run!

#64nodessupercomputerproject – installation